m155 u

Miss u my 'lil Bro...Love u so much, God knows that!
Please, bring your smile, laugh and love back home. We're all missing u.

It really breaks my heart when hear u're crying. U're tough man, u never cry before. Boys don't cry. I know it must be hurt so bad this time. Come here my sweet one, come...and I will hug u tight, let u cry in my shoulder. Maybe I will not make everything will be better than yesterday, but I'll cry with u.

Love u always & always will be....


-Miss u so much-

Read More...

Positif...!

Dua garis merah, jelas, tegas, terang...!
Gak ada keraguan lagi, sudah jelas2 klo itu positif, yippie...
Setelah melewati seminggu yg penuh dengan keraguan akhirnya terjawab sudah *well, walopun blom cek ke dokter siy :P*

Pagi2 jam 05.30, dengan semangat 45 *lebay* aku merangkak ke ruang tamu, sambil meraba2 dalam kegelapan tas kerja suami, test pack ada di saku tasnya, kmrn dia baru saja beli.

Read More...

Disini ato bisa juga disini

Read More...

New Contractor

Yeaah....finally beres jg bebenah rumah baru (baca: kontrakan) kami. Walopun harus diselingi accident jatuh dr motor fufufu...(Sial tuh tukang taxi gelok!)

30 Agustus 2009: Dibantu sama Om Poli dan Om Baldus, kamipun mulai memindahkan barang dari Pancoran ke Menara Air, 2x bolak/i doang, tp lumayan memeras tenaga.
Setelah selesai dr Pancoran, makan siang, lanjut ambil barang2 di Sumbangsih, sekali angkut doang, karena yg diambil jg cuman barang2 yg tdk terpakai :P

Berunding masalah lemari taro dimana, karpetnya mau warna apa, gantungannya dmn, barang2nya tuan rumah dibuang/disimpan, ternyata cukup menyita tenaga, karena pake berantem dulu...Hehehe....bru awal2 dah pake berantem. Ketawa/i jadinya kta abis itu.

Rumahnya sederhana, kamar tidur 2 buah, ruang tamu, ruang makan, dapur dan toilet, jemurannya ada di depan rumah. Untungnya si empunya rumah sdh terlebih dahulu membersihkan rumah, jd kta tdk perlu repot2 membersihkan sekuat tenaga karna lama ditinggalkan org terdahulu.

Untuk sementara, ak msh tinggal d Sumbangsih, abis pulang dr kampung bru deh masuk k rumah baru (ce ileeeh) *berharap dah bersih klo ntar masuk xixixi*

Read More...

Our picture















Read More...

Our Pre-Wed

"Kalo poto pre-wed dmn San?"
"Ak pengen di atas genteng Len!"
"Akh...aneh2 aja kau san...klo ak maunya di pante, romantis gitu deh, trus larian2 di pante..."
"Baguslah Len klo di atas genteng, trus depannya ada sunset...bagus itu..."

Begitu kita2 percakapan aku dan Helen beberapa tahun yg lalu, bukan cuman sekali, kami membahasnya sampe beberapa kali, dan idenya masih sama, Helen pengen foto pre-wed di pantai, dan aku masih sama: di atas genteng bersama nuansa romantis sunset.
Konyol memang!

Dan akhirnya saat itu datang juga, aku harus mempersiapkan rencana foto pre-wedding-ku...tapi bukan di atas genteng seperti anganku yg kuceritakan pada Helen :-D

Pengen yg outdoor, tapi mahalnya bow...
Di POSE Studio bisa kenda Rp 3,880,000,- (including make-up, kostum, ijin lokasi), Rp 1,500,000,- yg ditawarkan oleh HANS PRODUCTION (Not include make-up & friends, foto tok!).

Akhirnya, aku memutuskan utk foto studio saja, karena di POSE STUDIO kenanya Rp 980,000,- dengan paket:
- 8 kali pose
- Kostum 2x ganti
-

well, klo dihitung2 lumayanlah, setidaknya ada kenangan foto pre-wed :P

Read More...

Hunting Souvenir

Berbekal modal nekat *lebay dikit* akhirnya ak bniat hunting souvenir d Pasar Meser a.k.a Pasar Jatinegara. Well, walopun hrs hunting sendirian, puas dah survey2-nya.
Tata harus bertanding bola jam 10, jd gak bisa nemanin :-(

Ak jadi beli serbet yg dipesan Mama *Gak tanggung2 si Ibu mesan 20 buah serbet, phew!* Untuk langkah awal ak beli 9 pcs serbet, murah, cuman 20rb perak dpt 9 buah.
Abis itu nemu taplak sofa plastik marun *mecing lah sama sofa di rumah* 20rb per pcs. Trus ada taplak meja makan gede (2m x 1.35m) warna putih-mika-ada kembang2 pink-nya (60rb jdnya).

Souvenirnya lucu2...websitenya bisa di lihat disini:



Read More...

Countdown to our Big Day

Geez! It's 61 days left to Our Big Day!
Makes me scare even more >.<

Wedding ring : check!
Wedding Gown : In-progress...
Wedding Jas : In-progress...
Parents Dress : Not yet!
Parents in law Dress : Not yet!
Bridal shoes : Not yet!
Souvenir : Don't know yet :(
Plane : In-progress...

Do we ready to our wedding???
I DON'T KNOW........!!!!!!!!!


T_T

Read More...

One of my Cerpen >.<

My Gosh! I just found one of my article that I sent to BOBO Magazine a few years back (Sunday, 30 May 2004 06:45 AM)

I even used both of my brother's name hahaha....
You guys just check it out!


************************************************************************

Kepada

Yth. Redaksi Majalah Bobo

di

Jakarta

Dengan hormat,

Bersama e-mail ini saya lampirkan cerita pendek hasil karangan saya yang berjudul “ Baju Kesayangan” agar dapat dimuat di Majalah Bobo ini.

Berikut biodata saya:

Nama : Alexandra S. Aha

Alamat : Jl. Bojong Soang No. 98

Dayeuh kolot

Bandung – Jawa Barat

40257

Telpon : 0817-0275327

No. rek : Bank BNI Kantor cabang ITB – Bandung

236.001026326.901

Besar harapan saya agar cerpen saya ini bisa dimuat di majalah yang Bapak/Ibu asuh ini. Jika Bapak/Ibu tidak keberatan, saya mohon agar saya diberitahu lewat e-mail atau telepon jika cerpen saya ini dimuat.

Terima Kasih

Hormat Saya

Alexandra S. Aha


BAJU KESAYANGAN

Brukk….

Wilfrid mencampakkan tas sekolah ke tempat tidurnya. Dengan wajah cemberut ia duduk di sisi ranjangnya.

Entah sudah berapa kali ibunya melakukan kesalahan yang sama. Tadi sepulang sekolah dia menemui Didin, sepupunya yang tinggal di kampung, lagi main di teras rumahnya dengan mainan-mainan milik Wilfrid. Dan yang lebih membuat dia kesal, Didin mengenakan kostum klub bola kesayangannya. Baju itu memang jarang dia pakai. Tapi itu benar-benar baju favoritnya.

Hatinya benar-benar kesal sekarang, kini dia bukan hanya marah sama ibunya tapi juga pada Didin.

“Wilfrid….” Terdengar panggilan ibu di depan pintu kamarnya. Ia memang sengaja mengunci pintu kamarnya.

Hening.

“Wil, ayo makan sayang!” panggil ibunya lagi, “Didin udah nunggu lho!”

Huh Didin lagi, rutuknya dalam hati, kenapa nggak Didin saja yang diangkat jadi anaknya. Dia merasa Didinlah yang lebih dimanja sama ibunya.

“Wil…ayo! Keburu dingin nanti makanannya.”

“Ya udah kalau kamu nggak mau makan, Ayah, Ibu ama Didin habisin yah makanannya,” canda Ibunya.

Kini Ibu benar-benar keterlaluan, masa anaknya sendiri dibiarkan kelaparan.

Klek. Pintu kamar Wilfrid terbuka. Ia keluar dengan wajah cemberut. Kebetulan Ia memang lagi lapar.

“Lho kok, masam gitu sih wajah anak Ayah?” tampak Ayahnya sudah pulang dari kantor, “abis dimarahin gurunya yah?” tanyanya lagi.

Kini dia benar-benar kesal, nggak ada yang mengerti kenapa dia cemberut hari ini.

“Bu, Wilfrid nggak mau kalau Ibu masuk kamarku lagi dan mengambil baju-bajuku tanpa seijinku,” ujarnya kesal, “mulai sekarang kunci kamar Wilfrid, Wilfrid bawa aja ke sekolah.”

Kini mengertilah Ibunya mengapa anak semata wayangnya marah padanya.

“Ya udah kita makan dulu, nanti kita ngobrol lagi. Oke?” ayahnya menengahi.

Selama makan, Wilfrid sama sekali tidak menggubris Didin, menanggapi omongannya pun tidak.

Selesai makan, Wilfrid langsung masuk ke kamarnya. Ibupun menyusul ke kamarnya setelah terlebih dahulu merapikan meja makan.

“Ibu nggak suka kalau kamu bersikap seperti itu sama saudaramu sendiri,” ujar Ibunya.

“Tapi Wilfrid juga nggak suka Bu, kalau Ibu seenaknya ngambil mainan dan pakaian Wilfrid buat Didin,” ujarnya sengit.

“Nak,” ujar Ibunya perlahan, ”Didin itu saudaramu sendiri, lagian kamu masih punya banyak mainan kan? Apa salahnya kamu ngasih sebagian mainanmu sama Didin. Kostum bolamu apalagi! Ibu aja sampai heran, baju kamu kok corak dan warnanya sama semua.”

“Wilfrid nggak peduli, pokoknya Wilfrid mau ngambil baju itu sekarang!”

Ibu hanya terdiam melihatnya, tak sanggup berkata lagi. Wilfrid memang keras kepala.

Bukk….dia menabrak sesuatu di depan kamarnya. Ternyata Didin sudah berada di depan kamarnya. Dengan bertelanjang dada Didin menyerahkan kostum bola kesayangan Wilfrid yang tadi dipakainya.

“Ini,” katanya perlahan. Ternyata pertengkaran Wilfrid sama Ibunya didengar oleh Didin. “Didin nggak papa kok kalau nggak pakai baju, lagian udah biasa kayak gini, di kampung juga nggak pernah pake baju,” ujar Didin tulus.

Pelan Ia melirik wajah sepupunya yang memang sebaya dengannya. Hatinya benar-benar tersentuh. Masak dia tega melihat sepupunya bertelanjang dada sementara dia masih punya banyak pakaian.

“Kamu nggak punya baju lagi?” tanyanya iba.

Didin menggeleng perlahan, “Udah biasa kok!”

“Ya udah pake aja, itu buat kamu kok.”

“Bener?”

Wilfrid mengangguk mantap.

Senyum terpancar dari wajah Didin. Dia pun segera berlalu ingin melanjutkan mainnya.

Di belakang tampak senyum Ibu mengembang.

“Nah gitu dong baru anak Ibu!” Ibunya pun mengelus kepala anak kesayangannya itu.

Wilfrid tersenyum sekali lagi.

Nggak ada salahnya berbuat kebaikan, ujarnya dalam hati. Lagian aku kan udah punya banyak baju, masak ngasih buat saudara sendiri aja nggak bisa?

Itu memang kostum klub bola kesayangannya tapi dia lebih sayang sama Didin.

“Udah ah Bu,” ujarnya pada ibunya, “aku mau maen ama Didin dulu.”

Sekali lagi Ibunya tersenyum bangga.

**********************************************************************

Read More...

See how it fit in my finger :D :D :D

Read More...